UPAYA MEMBANGUN PEMAHAMAN FILSAFAT PENDIDIKAN MATEMATIKA
Prof. Dr. Marsigit,
M. A, Amalia Nur Rachman
A. Latar Belakang
Manusia pada hakekatnya adalah seorang filsuf yang selalu berusaha mencari
jawaban tentang semua yang ada dan mungkin ada. Adanya pertanyaan-pertanyaan mendasar
telah menunjukkan bentuk usaha dalam membangun filsafat. Pertanyaan-pertanyaan
mendasar dalam filsafat menjawab unsur-unsur filsafat yaitu ontologis,
epistemologis dan aksiologis.
Berbicara tentang filsafat pendidikan matematika berarti berbicara tentang
unsur yang ada pendidikan. Salah satu unsur yang penting dalam pendidikan
adalah guru. Guru matematika mengajar matematika sebagai ilmu yang abstrak,
sedangkan dalam praktek pendidikan matematika merupakan sebuah kegiatan
pemecahan masalah. Paradigma pendidikan matematika lama yang mengacu pada
teacher centered harus kita ubah. Upaya yang dapat dilakukan adalah merubah
pandangan tentang filsafat pendidikan matematika, karena di dalam filsafat
pendidikan matematika terdapat hakekat semua unsur pendidikan matematika.
Dengan mengetahui hakekat tersebut akan memberi pedoman bagaimana sebaiknya melakukan
pendidikan matematika dan pada akhirnya pendidikan matematika berujung pada
nilai yang harus dicapai dari pendidikan matematika tersebut.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana tinjauan filsafat pendidikan matematika?
2. Bagaimana upaya membangun pemahaman filsafat pendidikan matematika?
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Tinjauan Filsafat Pendidikan Matematika
Filsafat pendidikan matematika termasuk filsafat yang membahas proses
pendidikan dalam bidang studi matematika. Pendidikan matematika adalah bidang
studi yang mempelajari aspek-aspek sifat dasar dan sejarah matematika,
psikologi belajar dan mengajar matematika, kurikulum matematika sekolah, baik
pengembangan maupun penerapannya di kelas.
a.
Ontologis Filsafat Pendidikan
Matematika
Menurut Marsigit
(2010) filsafat pendidikan matematika adalah refleksi terhadap pendidikan
matematika, meliputi refleksi terhadap semua yang ada dan yang mungkin ada
dalam pendidikan matematika.
Pendidikan matematika
di tanah air saat ini sedang mengalami perubahan paradigma. Terdapat kesadaran
yang kuat, terutama di kalangan pengambil kebijakan, untuk memperbaharui
pendidikan matematika. Tujuannya adalah agar pembelajaran matematika lebih
bermakna bagi siswa dan dapat memberikan bekal kompetensi yang memadai baik
untuk studi lanjut maupun untuk memasuki dunia kerja.
Secara ontologis
filsafat pendidikan matematika berbicara tentang hakekat obyek-obyeknya yang
sebelumnya sudah dibahas di atas. Obyek-obyek filsafat pendidikan matematika
tersebut adalah.
1)
Hakekat siswa dalam pendidikan
matematika
Siswa dalam pendidikan matematika adalah individu yang mampu membangun
konsepnya sendiri melalui pengalaman dan pikiran namun masih senang bermain.
2)
Hakekat guru dalam pendidikan
matematika
Berdasarkan filsafat konstruktivis
seorang guru matematika adalah orang yang membantu atau memfasilitasi siswa
untuk membangun pengetahuan.
3)
Hakekat pembelajaran matematika
Pembelajaran adalah suatu kegiatan dimana siswa difasilitasi oleh guru
untuk membangun pengetahuan sendri. Pengetahuan tersebut harus ditemukan
sendiri oleh siswa. Jadi pembelajaran matematika diharapkan mempertimbangkan
aspek kognitif, afektif dan psikomotorik
4)
Hakekat penilaian
Tujuan pendidikan adalah membangun pengetahuan sendiri. Oleh karena itu
penilaian bukan hanya penilaian akhir yaitu penilaian terhadap penguasaan semua
materi matematika tetapi juga meliputi penilaian proses dalam aspek kognitif,
afektif dan psikomotorik.
5)
Hakekat matematika sekolah
Matematika sekolah tersebut terdiri atas
bagian-bagian matematika yang dipilih guna menumbuhkembangkan
kemampuan-kemampuan dan membentuk pribadi serta berpadu pada perkembangan Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi (Erman Suherman dkk, 2003: 55).
Ebbut dan Straker (Marsigit, 2007: 5-6)
menguraikan hakikat matematika sekolah, matematika adalah kegiatan penelusuran
pola dan hubungan; kreatifitas yang memerlukan imajinasi, intuisi, dan
penemuan; kegiatan problem solving; alat komunikasi.
6) Hakekat kurikulum
Kurikulum
mempunyai kedudukan sentral dalam seluruh proses pendidikan. Kurikulum
mengarahkan segala bentuk aktivitas pendidikan demi tercapainya tujuan-tujuan
pendidikan. Kurikulum juga merupakan suatu rencana pendidikan yang memberikan
pedoman dan pegangan tentang jenis, lingkup, dan urutan isi serta proses
pendidikan.
b.
Epistemologis Filsafat
Pendidikan Matematika
Filsafat yang
sangat berpengaruh terhadap pembelajaran matematika adalah filsafat
kontruktivism. Menurut filsafat konstruktivis pengetahuan merupakan konstruksi
(bentukan) dari orang yang mengenal sesuatu (skemata). Pengetahuan tidak bisa
ditransfer dari guru kepada orang lain, karena setiap orang mempunyai skema
sendiri tentang apa yang diketahuinya. Menurut filsafat konstruktivis berpikir
yang baik adalah lebih penting daripada mempunyai jawaban yang benar atas suatu
persoalan yang dipelajari. Seseorang yang mempunyai cara berpikir yang baik,
dalam arti bahwa cara berpikirnya dapat digunakan untuk menghadapi fenomena
baru, akan dapat menemukan pemecahan dalam menghadapi persoalan lain (Suparno,
1997).
1)
Tinjauan epistemologis tentang
siswa dalam pendidikan matematika
Siswa adalah pembelajar aktif membangun pemahaman mereka sendiri dari
konsep-konsep daripada hanya berupa "tabula rasa" untuk
"menyalin" pengetahuan langsung dari guru. Siswa juga akan belajar
dengan baik ketika mereka bekerja sama dan mengembangkan pemahaman melalui
menggunakan pengalaman sebelumnya, wacana, dan penalaran. Dengan kata lain, ide
ini adalah konstruktivisme sosial, lingkungan matematika yang berpusat pada
siswa, kemandirian, dan aktif. Proses belajar ini diperlukan untuk membangun
pengetahuan dan pemecahan masalah matematika.
2)
Tinjauan epistemologis tentang
guru dalam pendidikan matematika
Selain memiliki pengetahuan latar belakang matematika yang kuat, guru
harus memiliki keterampilan pembelajaran yang baik untuk mengajar,
mempromosikan, dan membantu siswa belajar efektif. Guru adalah pendamping atau
fasilitator, bukan pentransfer pengetahuan. Mereka harus memotivasi siswa untuk
secara aktif memeriksa dan memperluas pemikiran mereka, bentuk lingkungan
percakapan di mana siswa berbagi dan membangun pengetahuan mereka sendiri,
instruksi desain yang memungkinkan siswa untuk belajar dengan melakukan,
menyelaraskan kurikulum sesuai dengan standar dan penilaian siswa, dan
menerapkan teknologi untuk meningkatkan pengajaran dan bersandar. Singkatnya,
guru yang membuat kelas yang memaksimalkan pembelajaran siswa.
3)
Tinjauan epistemologis tentang
pembelajaran matematika
Epitemologis dari tentang pembelajaran matematika berhubungan dengan
pemilihan atau penggunaan metode pembelajaran matematika. Metode yang paling
dominan digunakan oleh para guru termasuk guru matematika adalah metode ceramah
atau tanya jawab. Metode ini menekankan pembelajaran matematika sebagai proses
penyampaian materi matematika. Dalam metode ini guru menempatkan siswa sebagai
individu yang pasif, tidak mampu berpikir, dan tidak ada perbedaan diantara
mereka.
4)
Tinjauan epistemologis tentang
penilaian dalam pendidikan matematika.
Dalam pendidikan
matematika sekarang ini penilaian yang dilakukan diharapkan mengukur semua
aspek bukan pada penguasaan materi pembelajaran tetapi lebih khusus pada
penguasaan kompetensi siswa.
5)
Tinjauan epistemologis tentang
matematika sekolah
Implikasi dari pandangan bahwa matematika merupakan kegiatan
penelusuran pola dan hubungan adalah: memberikan kesempatan siswa untuk
melakukan kegiatan penemuan dan penyelidikan pola-pola untuk menentukan
hubungan; memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan percobaan dengan
berbagai cara, mendorong siswa untuk menemukan adanya urutan, perbedaan,
perbandingan dan pengelompokan; mendorong siswa menarik kesimpulan umum; dan
membantu siswa memahami dan menemukan hubungan antara pengertian satu dengan
yang lainnya.
6)
Tinjauan epistemologis tentang
kurikulum pendidikan matematika
Aliran Filsafat Perenialisme,
Essensialisme, Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang mendasari
terhadap pengembangan Model Kurikulum Subjek-Akademis. Sedangkan, filsafat
progresivisme memberikan dasar bagi pengembangan Model Kurikulum Pendidikan
Pribadi. Sementara, filsafat rekonstruktivisme banyak diterapkan dalam
pengembangan Model Kurikulum Interaksional. Masing-masing aliran filsafat pasti
memiliki kelemahan dan keunggulan tersendiri. Oleh karena itu, dalam praktek
pengembangan kurikulum, penerapan aliran filsafat cenderung dilakukan secara
eklektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan berbagai kepentingan
yang terkait dengan pendidikan.
Tugas
mengembangkan kurikulum ini merupakan tugas guru matematika yang tidak mudah.
Guru matematika diharapkan mampu mengembangkan matematika sesuai dengan ruang
dan waktunya. Artinya kurikulum yang dikembangkan mengakomodir semua perbedaan
dan mempertimbangkan situasi dan kondisi yang mempengaruhi semua aspek
pendidikan
c.
Tinjauan Aksiologi Filsafat
Pendidikan Matematika
Berbicara tentang
aksilogis berarti berbicara tentang manfaat dan nilai yang diperoleh dari
pendidikan matematika tersebut. Manfaat pendidikan matematika dirasakan oleh
bagi siswa dan bagi guru yang mengacu pada tujuan pendidikan matematika. Nilai
yang dapat diperoleh dari filsafat pendidikan matematika adalah bahwa kita
sebagai guru matematika hendaknya merefleksi sejauh mana pembelajaran yang kita
lakukan sesuai dengan hakekatnya masing-masing. Melalui filsafat pendidikan
matematika, guru metematikapun memperoleh pedoman atau acuan untuk menyusun dan
mengembangkan pendidikan matematika.
B.
Upaya Membangun Filsafat Pendidikan Matematika
Berbicara
tentang filsafat pendidikan matematika sudah tentu menjadi tugas kita para guru
matematika untuk membangun dan mengembangkannya dalam pendidikan matematika di
tempat kita masing-masing.
Filsafat
pendidikan matematika yang dapat
dibangun dari kondisi tersebut adalah filsafat
konstruktivism dengan kebenaran ilmu matematika yang dibangun berdasarkan
sintetik a priori. Upaya yang dapat
dilakukan untuk membangun filsafat ini adalah mulai dengan merubah
pandangan tentang guru. Jika siswa
dirasa sudah menguasai materi prasyarat, tugas guru adalah
menyiapkan kondisi dan lingkungan yang membantu siswa menyalurkan potensi yang
dimilikinya. Penyiapan kondisi dan lingkungan tercermin dari pembelajaran yang
dilakukan khususnya menyangkut metode pembelajaran yang membantu siswa
membangun konsep dengan atau tanpa bantuan guru misalnya metode penemuan.
Dalam hubungan dengan sentral dari pendidikan, paradigma pengajaran itu
sudah berganti menjadi pembelajaran sehingga siswa menjadi sentral dari
pendidikan matematika. Jadi filsafat pendidikan matematika yang akan dibangun
adalah Progresivism. Upaya yang dilakukan adalah menciptakan pembelajaran sehingga membuat siswa belajar lebih
baik dengan pemilihan metode ataupun pemilihan media yang baik.
Matematika menurut
anggapan siswa itu sulit maka ia membutuhkan interaksi dengan orang lain untuk
mengatasi kesulitan tersebut. Melalui interaksi dengan teman dan juga dengan
guru siswa akan dengan mudah membangun konsep matematika yang konsep tersebut
akan benar-benar tertanam dalam pikirannya. Filsafat pendidikan matematika yang
dapat dibangun
adalah socio-konstruktivism. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan memilih dan
menggunakan metode-metode yang menitikberatkan pada kegiatan kelompok, misalnya
cooperatif.
Dalam hubungan dengan karakteristik siswa, suatu kelas terdiri atas
siswa dengan segala perbedaannya. Pembelajaran matematika yang dilakukan
hendaknya mempertimbangkan hal tersebut. Filsafat pendidikan matematika
yang akan dibangun adalah filsafat kategorism dan pluralism. Membedakan disini
bukan menyangkut pembedaan mereka secara fisik namun penggunaan banyak metode dan bervariasi sehingga mampu mengakomodir
perbedaan-perbedaan tersebut.
Dari segi isi atau materi matematika, matematika berisi hal-hal yang
abstrak diperlukan pemberian pengalaman-pangalaman kepada
siswa dan juga menghadirkan benda-benda konkret sehingga
siswa semakin mudah memahami materi yang diajarkan. Filsafat pendidikan
matematika yang digunakan adalah realism dan eksistensialism. Upaya yang dilakukan adalah
menghadirkan media atau benda konkret dalam pembelajaran matematika,
menggunakan pengetahuan yang sudah dimiliki, dan menggunakan pengalaman siswa
dalam kehidupan sehari-hari sehingga sarana untuk mengajarkan konsep
matematika.
Dalam hubungan dengan penilaian, penilaian yang dilakukan harus
menekankan semua aspek yaitu kognitif, psikomotor dan afektif. Jadi bukan hanya
pada hasil akhir saja tapi pada proses pembelajaran yang dilakukan. Filsafat
pendidikan matematika yang dibangun adalah kontruktivism dengan upaya yang
dilakukan adalah dengan menggunakan semua bentuk dan jenis tes yang dapat
menggambarkan hasil pencapaian siswa secara total. Dalam filsafat
konstruktivism yang dinilai dari siswa bukan bagaimana hasil tapi bagaimana
proses siswa membangun pengetahuan.
BAB
III
PENUTUP
Berdasarkan uraian di atas, maka pendidikan matematika harus
memperhatikan filsafat pendidikan matematika karena pendidikan matematika tidak
akan berhasil jika filsafat tidak berperan di dalamnya. Paradigma lama sudah mengalami perubahan yang
ditujukan kepada paradigma pendidikan matematika yang lebih baik. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mengubah pandangan tentang paradigm pendidikan
lama dan menggantikannya dengan paradigm pendidikan baru dengan lebih
menekankan aspek filsafat dalam pendidikan matematika sehingga pembelajaran
matematika akan mencapai tujuan yang diinginkan.
Filsafat pendidikan matematika yang dapat dibangun dalam pendidikan matematika adalah
filsafat konstruktivism dengan membangun pengetahuan dengan dasar sintetik a
priori, progresivism, socio-konstruktivism, kategorism, pluralism, realism,
eksistensialism. Upaya yang dilakukan adalah memperhatikan pentingnya pemahaman
terhadap konsep dengan memanfaatkan kemampuan siswa untuk membangun sendiri
pengetahuan, bekerja sama dalam kelompok. Pembelajaran lebih menekankan
kehadiran benda konkret, penggunaan pengalaman hidup siswa, menggunakan situasi
konkret. Penggunaan metode pembelajaran yang banyak dan bervariasi untuk
melayani semua perbedaan individu dan tercapainya kompetensi siswa.
Pembelajaran dan penilaian lebih menekankan pada proses serta nilai atau
manfaat praktis yang akan diperoleh siswa dalam pendidikan matematika
DAFTAR
PUSTAKA
Kemur, Jance. 2009. Guru Dan Filsafat Pendidikan. Diambil pada tanggal 31 desember 2018 dari http://smp-acot.stbellarminus-jkt.net
Marsigit, 2008. Makalah seminar: Gerakan Reformasi Untuk Menggali dan
Mengembangkan Nilai-Nilai Matematika Untuk Menggapai Kembali Nilai-Nilai Luhur
Bangsa Menuju Standar Internasional Pendidikan. Yogyakarta: UNY
_______, 2010. The South
Circle of School Philosophy. Diambil pada tanggal 31 Desember 2018 dari http://powermathematics.com
_______, 2001. Hand Out
Perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika.UNY, Yogyakarta
Suherman, Erman. dkk. (2003). Strategi Pembelajaran Matematika
Kontemporer. Universitas pendidikan Indonesia, Bandung
Suparno, P.
(1997). Filsafat Konstruktivisme Dalam Pendidikan. Kanisius, Yogyakarta