A. Ideologi
Pendidikan
1.
Radikal
a.
Poper
(1959) menyatakan pandangan subjektif murni tentang pengetahuan diuraikan
sebagai kontrukstivisme radikal.Dunia dapat dipahami sebagai sumber pengalaman
kita.
b.
Margaret
Thatcher menyatakan anak-anak yang perlu untuk menghitung dan perkalian sedang
belajar matematika anti-rasis—apa pun yang mungkin. Anak-anak yang membutuhkan
kemampuan untuk dapat mengekspresikan diri dalam bahasa Inggris yang jelas
sedang diajarkan slogan-slogan politik.
2.
Konservatif
a. Margaret Thatcher termasuk
anggota The ‘New Right’ yang merupakan
kelompok konservatif radikal, yang berpikiran-mirip dari Pemerintah Konservatif
Inggris tahun 1980-an.(Gordon, 1989)
3.
Liberal
a. John Rawls (1921–2002).
b. Robert Nozick (1938–2002).
4.
Humanis
a. Sir Thomas More (1478–1535).
b. Michel de Montaigne (1533–1592).
c. Jean-Paul Sartre (1905–1980).
5.
Progresif
a.
Pestalozzi
dan Froebel yang menyatakan seorang anak dilahirkan dengan semua hal yang
dibutuhkannya untuk mengisi mental dan pertumbuhan fisik, dan diberi lingkungan
yang tepat, sebuah taman kanak-kanak, akan tumbuh menjadi kemampuannya. Seperti
lingkungan harus mendorong dan mendasarkan pada spontanitas, kegembiraan,
permainan, pelajaran praktek dan percobaan serta aktivitas kelompok (Ramsden,
1986).
b.
A.
S. Neill (1968) dan Dartington Hall (Meighan, 1985) dengan pemikirannya terkait
tradisi sekolah pribadi yang ‘progresif’. Bagaimanapun juga pengaruh utama dari
tradisi progresif telah menjadi pendidikan utama di Inggris. Hal ini telah
banyak membantu dua laporan pendidikan, laporan Hadow (1931) dan laporan
Plowden (1967), (Blenkin dan Kelly, 1981).
6.
Sosialis
a. Marx, Mannheim, Durkheim, Mead,
Schutz, Berger dan Luckman, dan Barnes dalam 'tesis konstruksionis sosial' bahwa
semua pengetahuan merupakan konstruksi sosial. (meskipun beberapa tokoh
tersebut menegaskan bahwa pengetahuan, khususnya matematika, dapat bebas dari
bias sosial). Teori belajar matematika dari perspektif ini adalah bahwa dari
makna konstruksi sosial, yang berasal
dari teori asal-usul pemikiran sosial
b. Vygotsky (1962) dan teori
aktivitas Leont'ev (1978) dan lain-lain yang menyatakan pengetahuan anak dan
arti diinternalisasi ‘konstruksi sosial’ sebagai hasil dari interaksi sosial,
negosiasi makna dan keterlibatan dalam 'kegiatan'. Pandangan ini telah secara
eksplisit diusulkan oleh pendukung posisi pendidik masyarakat seperti Uskup
(1985), Cobb (1986) dan MellinOlsen(1987)
7.
Demokrasi
a. John Dewey menyatakan bahwa
dirinya percaya dalam pendidikan untuk demokrasi, dan khususnya, pentingnya
kritis
B. Hakikat
Pendidikan
1.
Obligation
Dalam
mengajar matematika diwajibkan dalam perngerjaan soal, maupun dalam instruksi
guru yang harus dikerjakan
2.
Preserving
Sebagai
pendidik, berperan sebagai motivator dalam pembelajaran matematika melalui
pekerjaan-relevansi
3.
Exploiting
Guru
menjadi fasilitator dalam pembejaran guna mendukung daya eksplorasi siswa
4.
Transformasi
Guru
menjelaskan dan mengarahkan siswa agar memiliki pemahaman yang baik dalam
setiap pembelajaran
5.
Liberating
Guru
membebaskan siswa dalam mengeksplorasi materi pembelajaran dan kemampuan
belajar. Hal ini bertujuan agar siswa dapat meningkatkan kemampuan berimajinasi,
berintuisi, berpikir divergen, melahirkan karya yang orisinal, memprediksi dan menduga,
mencoba-coba serta untuk memfasilitasi rasa ingin tahu siswa.
6.
Needs
Guru
merupakan kunci keberhasilan pembelajaran. Interaksi positif antara guru dengan peserta didik dalam pembelajaran
sangat berpengaruh terhadap hasil
belajar mengajar. Oleh karena itu guru
perlu memperhatikan kebutuhan, kekurangan, keinginan peserta didik, dan
memberikan dorongan kepadanya. Materi pelajaran diusahakan tidak terlalu banyak
tetapi seyogyanya didasarkan kepada asumsi: “kemampuan dan kompetensi apa yang
dapat dikembangkan dari siswa, sehingga materi pelajaran yang diberikan
disesuaikan dengan taraf berfikir dan kebutuhan siswa”.
7.
Democracy
Pembelajaran
yang demokratis adalah pembelajaran yang di dalamnya terdapat interaksi dua
arah antara guru dan siswa. Guru memberikan bahan pembelajaran dengan selalu
memberi kesempatan kepada siswa untuk aktif memberikan reaksi, siswa bisa
bertanya maupun memberi tanggapan kritis tanpa ada perasaan takut. Bahkan,
kalau perlu siswa diperbolehkan menyanggah informasi atau pendapat guru jika
memang dia mempunyai informasi atau pendapat yang berbeda.
C. Hakikat
Matematika
1.
Body of Knowledge
Matematika pada industrial trainer ini
dipandang sebagai body of knowledge.
Matematika sebagai ratu atau ibunya ilmu dimaksudkan matematika adalah sebagai
sumber dari ilmu yang lain. Banyak ilmu-ilmu yang penemuan dan pengembangannya
bergantung dari matematika.
2.
Science of Truth
Matematika dipandang sebagai science of truth (Kebenaran Ilmu).
Ukuran kebenaran ilmu adalah rasionalisme dan empirisme sehingga kebenaran ilmu
bersifat empiris dan rasional. Sedangkan menurut Immanuel Kant, matematika
merupakan cara berpikir logis yang salah atau benarnya dapat ditentukan tanpa
mempelajari dunia empiris. Jadi menurut Immanuel Kant dalam pembelajaran
matematika tidak penting adanya suatu pengalaman, yang terpenting adalah
logika. Sesuatu hal dapat dibuktikan secara teoritis berdasarkan penalaran
(logika) saja, tanpa perlu mengamati, melakukan, atau mengalaminya secara
langsung.
Pada konsep ideal kurikulum 2013,
pelaksanaan proses pembelajaran matematika di sekolah justru mengarahkan siswa
untuk membuktikan sesuatu hal berdasarkan pengalaman langsung. Siswa diminta
untuk melakukan percobaan secara langsung, kemudian melakukan pengamatan
terhadap percobaan yang telah dilakukan, kemudian membuat sebuah kesimpulan
atau pembuktian terhadap sesuatu hal yang diteliti. Dalam hal ini, siswa tidak
hanya menggunakan logika (penalaran) dalam membuat sebuah kesimpulan atau
pembuktian, namun siswa juga akan menggunakan pengalaman empirisnya. Dengan
demikian, kebenaran yang akan diperoleh tidak hanya sesuai dengan teori yang
ada, namun juga akan sesuai dengan keadaan nyata (pengalaman) yang telah
dialami oleh siswa.
3.
Structure of Truth
Matematika dipandang sebagai Structure of
truth (Struktur kebenaran). Matematika mempelajari tentang pola, keteraturan,
tentang struktur yang terorganisasikan. Hal itu dimulai dari unsur-unsur yang
tidak terdefinisikan (undefined terms,
basic terms, primitive terms) kemudian pada unsur yang didefinisikan, ke
aksioma, atau postulat, dan akhirnya pada teorema. Konsep-konsep matematika
tersusun secara hirearkis, terstruktur, logis, dan sistematis mulai dari konsep
yang paling sederhana sampai pada konsep yang paling kompleks. Dalam matematika
terdapat topik atau konsep prasyarat sebagai dasar untuk memahami topik atau
konsep selanjutnya.
4.
Process of Thinking
Metematika dipandang sebagai process of thinking (proses berpikir).
Matematika lebih menekankan aktivitas dalam dunia rasio atau penalaran yang
terbentuk sebagai hasil pemikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses,
dan penalaran. Pada tahap awal, matematika terbentuk dari pengalaman manusia
dalam dunianya secara empiris, kemudian pengalaman itu diproses dalam dunia
rasio, diolah secara analisis dan sintesis dengan penalaran di dalam struktur
kognitif sehingga sampailah pada suatu kesimpulan berupa konsep-konsep
matematika.
Sesuai dengan pendekatan yang digunakan
dalam kurikulum 2013, yakni pendekatan scientific. Pendekatan ini lebih
menekankan pada pembelajaran yang mengaktifkan siswa. Pendekatan ini
dilaksanakan dengan melibatkan tiga model pembelajaran diantaranya adalah problem based learning, project based
learning, dan discovery learning.
Ketiga model ini akan menunjang how to do yang difokuskan dalam kurikulum 2013. Dalam
pelaksanaannya pendekatan scientific ini menekankan lima aspek penting, yaitu
mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan komunikasi.
5.
Social Activities
Matematika dipandang sebagai aktivitas
sosial, artinya semua aktivitas sosial didasarkan pada konsep-konsep
matematika, sedangkan pada kenyataannya aktivitas sosial yang dilakukan oleh
seseorang tidak selalu dihubungkan dengan konsep matematika, karena terkadang
seseorang tidak menyadari bahwa matematika telah mengambil bagian dalam setiap
aktivitas yang dilakukan sehari-hari.
No comments:
Post a Comment