Wednesday, January 2, 2019

Sintesis FILOSOFI dan TEORI DASAR PENDIDIKAN MATEMATIKA


A.     Ideologi Pendidikan
1.      Radikal
a.       Poper (1959) menyatakan pandangan subjektif murni tentang pengetahuan diuraikan sebagai kontrukstivisme radikal.Dunia dapat dipahami sebagai sumber pengalaman kita.
b.      Margaret Thatcher menyatakan anak-anak yang perlu untuk menghitung dan perkalian sedang belajar matematika anti-rasis—apa pun yang mungkin. Anak-anak yang membutuhkan kemampuan untuk dapat mengekspresikan diri dalam bahasa Inggris yang jelas sedang diajarkan slogan-slogan politik.

2.      Konservatif
a.       Margaret Thatcher termasuk anggota The ‘New Right’ yang merupakan kelompok konservatif radikal, yang berpikiran-mirip dari Pemerintah Konservatif Inggris tahun 1980-an.(Gordon, 1989)

3.      Liberal
a.       John Rawls (1921–2002).
b.      Robert Nozick (1938–2002). 

4.      Humanis
a.       Sir Thomas More (1478–1535).
b.      Michel de Montaigne (1533–1592).
c.       Jean-Paul Sartre (1905–1980). 

5.      Progresif
a.       Pestalozzi dan Froebel yang menyatakan seorang anak dilahirkan dengan semua hal yang dibutuhkannya untuk mengisi mental dan pertumbuhan fisik, dan diberi lingkungan yang tepat, sebuah taman kanak-kanak, akan tumbuh menjadi kemampuannya. Seperti lingkungan harus mendorong dan mendasarkan pada spontanitas, kegembiraan, permainan, pelajaran praktek dan percobaan serta aktivitas kelompok (Ramsden, 1986).
b.      A. S. Neill (1968) dan Dartington Hall (Meighan, 1985) dengan pemikirannya terkait tradisi sekolah pribadi yang ‘progresif’. Bagaimanapun juga pengaruh utama dari tradisi progresif telah menjadi pendidikan utama di Inggris. Hal ini telah banyak membantu dua laporan pendidikan, laporan Hadow (1931) dan laporan Plowden (1967), (Blenkin dan Kelly, 1981).

6.      Sosialis
a.       Marx, Mannheim, Durkheim, Mead, Schutz, Berger dan Luckman, dan Barnes dalam 'tesis konstruksionis sosial' bahwa semua pengetahuan merupakan konstruksi sosial. (meskipun beberapa tokoh tersebut menegaskan bahwa pengetahuan, khususnya matematika, dapat bebas dari bias sosial). Teori belajar matematika dari perspektif ini adalah bahwa dari makna konstruksi  sosial, yang berasal dari teori asal-usul pemikiran sosial
b.      Vygotsky (1962) dan teori aktivitas Leont'ev (1978) dan lain-lain yang menyatakan pengetahuan anak dan arti  diinternalisasi ‘konstruksi  sosial’ sebagai hasil dari interaksi sosial, negosiasi makna dan keterlibatan dalam 'kegiatan'. Pandangan ini telah secara eksplisit diusulkan oleh pendukung posisi pendidik masyarakat seperti Uskup (1985), Cobb (1986) dan MellinOlsen(1987)

7.      Demokrasi
a.       John Dewey menyatakan bahwa dirinya percaya dalam pendidikan untuk demokrasi, dan khususnya, pentingnya kritis


B.     Hakikat Pendidikan
1.      Obligation
Dalam mengajar matematika diwajibkan dalam perngerjaan soal, maupun dalam instruksi guru yang harus dikerjakan
2.      Preserving
Sebagai pendidik, berperan sebagai motivator dalam pembelajaran matematika melalui pekerjaan-relevansi
3.      Exploiting
Guru menjadi fasilitator dalam pembejaran guna mendukung daya eksplorasi siswa
4.      Transformasi
Guru menjelaskan dan mengarahkan siswa agar memiliki pemahaman yang baik dalam setiap pembelajaran
5.      Liberating
Guru membebaskan siswa dalam mengeksplorasi materi pembelajaran dan kemampuan belajar. Hal ini bertujuan agar siswa dapat meningkatkan kemampuan berimajinasi, berintuisi, berpikir divergen, melahirkan karya yang orisinal, memprediksi dan menduga, mencoba-coba serta untuk memfasilitasi rasa ingin tahu siswa.
6.      Needs
Guru merupakan kunci keberhasilan pembelajaran. Interaksi positif antara guru  dengan peserta didik dalam pembelajaran sangat  berpengaruh terhadap hasil belajar  mengajar. Oleh karena itu guru perlu memperhatikan kebutuhan, kekurangan, keinginan peserta didik, dan memberikan dorongan kepadanya. Materi pelajaran diusahakan tidak terlalu banyak tetapi seyogyanya didasarkan kepada asumsi: “kemampuan dan kompetensi apa yang dapat dikembangkan dari siswa, sehingga materi pelajaran yang diberikan disesuaikan dengan taraf berfikir dan kebutuhan siswa”. 
7.      Democracy
Pembelajaran yang demokratis adalah pembelajaran yang di dalamnya terdapat interaksi dua arah antara guru dan siswa. Guru memberikan bahan pembelajaran dengan selalu memberi kesempatan kepada siswa untuk aktif memberikan reaksi, siswa bisa bertanya maupun memberi tanggapan kritis tanpa ada perasaan takut. Bahkan, kalau perlu siswa diperbolehkan menyanggah informasi atau pendapat guru jika memang dia mempunyai informasi atau pendapat yang berbeda.


C.     Hakikat Matematika
1.      Body of Knowledge
      Matematika pada industrial trainer ini dipandang sebagai body of knowledge. Matematika sebagai ratu atau ibunya ilmu dimaksudkan matematika adalah sebagai sumber dari ilmu yang lain. Banyak ilmu-ilmu yang penemuan dan pengembangannya bergantung dari matematika.
2.      Science of Truth
      Matematika dipandang sebagai science of truth (Kebenaran Ilmu). Ukuran kebenaran ilmu adalah rasionalisme dan empirisme sehingga kebenaran ilmu bersifat empiris dan rasional. Sedangkan menurut Immanuel Kant, matematika merupakan cara berpikir logis yang salah atau benarnya dapat ditentukan tanpa mempelajari dunia empiris. Jadi menurut Immanuel Kant dalam pembelajaran matematika tidak penting adanya suatu pengalaman, yang terpenting adalah logika. Sesuatu hal dapat dibuktikan secara teoritis berdasarkan penalaran (logika) saja, tanpa perlu mengamati, melakukan, atau mengalaminya secara langsung.
      Pada konsep ideal kurikulum 2013, pelaksanaan proses pembelajaran matematika di sekolah justru mengarahkan siswa untuk membuktikan sesuatu hal berdasarkan pengalaman langsung. Siswa diminta untuk melakukan percobaan secara langsung, kemudian melakukan pengamatan terhadap percobaan yang telah dilakukan, kemudian membuat sebuah kesimpulan atau pembuktian terhadap sesuatu hal yang diteliti. Dalam hal ini, siswa tidak hanya menggunakan logika (penalaran) dalam membuat sebuah kesimpulan atau pembuktian, namun siswa juga akan menggunakan pengalaman empirisnya. Dengan demikian, kebenaran yang akan diperoleh tidak hanya sesuai dengan teori yang ada, namun juga akan sesuai dengan keadaan nyata (pengalaman) yang telah dialami oleh siswa.
3.      Structure of Truth
      Matematika dipandang sebagai Structure of truth (Struktur kebenaran). Matematika mempelajari tentang pola, keteraturan, tentang struktur yang terorganisasikan. Hal itu dimulai dari unsur-unsur yang tidak terdefinisikan (undefined terms, basic terms, primitive terms) kemudian pada unsur yang didefinisikan, ke aksioma, atau postulat, dan akhirnya pada teorema. Konsep-konsep matematika tersusun secara hirearkis, terstruktur, logis, dan sistematis mulai dari konsep yang paling sederhana sampai pada konsep yang paling kompleks. Dalam matematika terdapat topik atau konsep prasyarat sebagai dasar untuk memahami topik atau konsep selanjutnya.
4.      Process of Thinking
      Metematika dipandang sebagai process of thinking (proses berpikir). Matematika lebih menekankan aktivitas dalam dunia rasio atau penalaran yang terbentuk sebagai hasil pemikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses, dan penalaran. Pada tahap awal, matematika terbentuk dari pengalaman manusia dalam dunianya secara empiris, kemudian pengalaman itu diproses dalam dunia rasio, diolah secara analisis dan sintesis dengan penalaran di dalam struktur kognitif sehingga sampailah pada suatu kesimpulan berupa konsep-konsep matematika.
      Sesuai dengan pendekatan yang digunakan dalam kurikulum 2013, yakni pendekatan scientific. Pendekatan ini lebih menekankan pada pembelajaran yang mengaktifkan siswa. Pendekatan ini dilaksanakan dengan melibatkan tiga model pembelajaran diantaranya adalah problem based learning, project based learning, dan discovery learning. Ketiga model ini akan menunjang how to do  yang difokuskan dalam kurikulum 2013. Dalam pelaksanaannya pendekatan scientific ini menekankan lima aspek penting, yaitu mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan komunikasi.
5.      Social Activities
      Matematika dipandang sebagai aktivitas sosial, artinya semua aktivitas sosial didasarkan pada konsep-konsep matematika, sedangkan pada kenyataannya aktivitas sosial yang dilakukan oleh seseorang tidak selalu dihubungkan dengan konsep matematika, karena terkadang seseorang tidak menyadari bahwa matematika telah mengambil bagian dalam setiap aktivitas yang dilakukan sehari-hari.

No comments:

Post a Comment

UPAYA MEMBANGUN PEMAHAMAN DAN TEORI FILSAFAT PENDIDIKAN MATEMATIKA

UPAYA MEMBANGUN PEMAHAMAN FILSAFAT PENDIDIKAN MATEMATIKA Prof. Dr. Marsigit, M. A, Amalia Nur Rachman A.     Latar Belakang Manu...