Objek filsafat adalah yang “ada” dan yang “mungkin ada” dalam pikiran. Maksud dari yang “mungkin ada”
sangat luas, tidak bisa disebutkan satu persatu karena jumlahnya
bermilyar-milyar sampai tak terhingga. “Ada”
bagi saya belum tentu “ada” bagi dirimu. “Ada” bagi dirimu belum tentu
“ada”bagi saya. “ada” ku bisa jadi “mungkin ada” bagimu dan “ada” mu bisa jadi
“mungkin ada” bagimu. Bisa juga “ada” untuk diriku dan “ada” untuk dirimu. Contoh penjelasan objek
filsafat, adalah nama cucu Bapak Marsigit di dalam pikiran mahasiswa. Mahasiswa tidak nama cucu beliau. Itu berarti
“ada” dalam diriku tapi “tidak ada” dalam dirimu. Tetapi bisa saja menjadi
“mungkin ada”, ketika mahasiswa mulai memikirkan nama cucu beliau. Selanjutnya ketika
mahasiswa sudah diberi tahu nama
cucu beliau, menjadi “ada” pada dirimu dan “ada” pada diriku.
Pada hakekatnya belajar filsafat adalah hanya
mengadakan dari yang “mungkin ada” menjadi “ada”. Berkaitan dengan yang “ada di
dalam pikiran” dan “ada di luar pikiran”, contohnya adalah jika kita meletakkan
handphone
di atas meja, handphone
tersebut terlihat oleh mata kita, berarti handphone
tersebut “ada di luar pikiran” kita, karena secara fisik handphone itu berada di luar
pikiran. Kemudian handphone
itu dibungkus dengan kertas sehingga menjadi tertutup atau tidak terlihat,
berarti handphone
tersebut “ada di dalam pikiran”.
Persoalan hidup secara filosofis yaitu manusia hanya
paham ‘sebagian’, maka hidup sebagian itu termasuk godaan syaitan melalui sifat
manusia yang ‘parsial’. Belajar berfilsafat itu mengadakan yang belum ada.
Seperti pada pertanyaan tes tadi , sebab sebab sebab? jawabnya sebab, karena
semua di dunia ini merupakan sebab. Sebab yang paling tertinggi adalah Allah,
semua ciptaanNya juga merupakan sebab. Dalam filsafat terdapat aturan ‘ada’,
‘mengada’, ‘pengada’. Mitos adalah lawan
kata dari logos. Logos berarti berpikir, jadi sebenar-benarnya di dunia adalah
mitos dan logos. Ketika kita mengerjakan sesuatu dimana kita tidak mengerti
disebut mitos, semisal anak kecil yang belajar bicara atau makan. Tetapi berdoa
atau beribadah adalah keyakinan, bukan mitos.
Apakah semua pertanyaan mempunyai jawaban? Jawabannya
adalah iya. Namun, tidak semua jawaban harus selalu dijawab. Dan tidak smua
jawaban harus diucapkan.
Alat berfilsafat adalah bahasa analog. Bahasa analog
adalah konformitas dua dunia, lebih lembut dan lebih mendasar dari bahasa kiasan,
misalnya kata hati dalam bahasa analog bisa berarti iman, Tuhan, spiritualitas,
dan akhirat. Contohnya, bagaimana ‘membangun’ dunia? Disini bukan
berarti membangun dengan tenaga fisik tetapi ‘membangun’ dengan bahasa atau
tergantung konteksnya. Bahasa yang dimaksud disini adalah pikiran, karena
filsafat berarti berpikir. Bagaimana jika tidak berpikir ? bisa dikatakan dalam
filsafat bahwa sesuatu tersebut telah mati. Yang dimaksud mati adalah tidak
berfikir atau tidak berfungsi sesuai fungsinya. Lalu ada pertanyaan lanjut,
dimana letak pikiran kita? Pikiran kita ada di setiap objek pikir yang bisa
kita pikirkan atau rasakan secara analog. Metode berfilsafat adalah mendalam
dalamkan sedalam dalamnya sampai tidak mampu menjangkaunya.
Kehidupan berfilsafat menggunakan ilmu. Manusia pada
hakekatnya dalam keadaan merugi karena salah tapi sebagian kecil dari mereka
mengetahui kesalahannya. Berfilsafat merefleksikan diri dan bukan diri. Diri
dan yang lainnya. Karena sebenarnya yang mantap itu sudah berupa menjadi mayat
akibat tidak berpikir lagi. Berfilsafat adalah olah pikir yang
sebenar-benarnya. Manusia sering terperangkap oleh mitos.
Pikiran kacau sedang mengalami disorientasi. Filsafat
adalah sopan santun. Filsafat adalah kedudukan. Filsafat adalah adab. Filsafat
adalah derajat. Untuk memperolah derajat yang tinggi, maka raihlah maghfirah,
sakina, mawadah, dan warahmah. Hidup harus semangat agar tidak terancam
kematian. Sebenar-benarnya mayat, sudah tidak berfungsi seperti dengan
fungsinya. Itulah keterbatasan manusia.
No comments:
Post a Comment