Tuesday, November 6, 2018

Bahasa Filsafat


Objek filsafat adalah yang “ada” dan yang “mungkin ada”  dalam pikiran. Maksud dari yang “mungkin ada” sangat luas, tidak bisa disebutkan satu persatu karena jumlahnya bermilyar-milyar sampai tak terhingga. “Ada” bagi saya belum tentu “ada” bagi dirimu. “Ada” bagi dirimu belum tentu “ada”bagi saya. “ada” ku bisa jadi “mungkin ada” bagimu dan “ada” mu bisa jadi “mungkin ada” bagimu. Bisa juga “ada” untuk diriku dan “ada” untuk dirimu. Contoh penjelasan objek filsafat, adalah nama cucu Bapak Marsigit di dalam pikiran mahasiswa. Mahasiswa tidak nama cucu beliau. Itu berarti “ada” dalam diriku tapi “tidak ada” dalam dirimu. Tetapi bisa saja menjadi “mungkin ada”, ketika mahasiswa mulai memikirkan nama cucu beliau. Selanjutnya ketika mahasiswa sudah diberi tahu nama cucu beliau, menjadi “ada” pada dirimu dan “ada” pada diriku.
Pada hakekatnya belajar filsafat adalah hanya mengadakan dari yang “mungkin ada” menjadi “ada”. Berkaitan dengan yang “ada di dalam pikiran” dan “ada di luar pikiran”, contohnya adalah jika kita meletakkan handphone di atas meja, handphone tersebut terlihat oleh mata kita, berarti handphone tersebut “ada di luar pikiran” kita, karena secara fisik handphone itu berada di luar pikiran. Kemudian handphone itu dibungkus dengan kertas sehingga menjadi tertutup atau tidak terlihat, berarti handphone tersebut “ada di dalam pikiran”.
Persoalan hidup secara filosofis yaitu manusia hanya paham ‘sebagian’, maka hidup sebagian itu termasuk godaan syaitan melalui sifat manusia yang ‘parsial’. Belajar berfilsafat itu mengadakan yang belum ada. Seperti pada pertanyaan tes tadi , sebab sebab sebab? jawabnya sebab, karena semua di dunia ini merupakan sebab. Sebab yang paling tertinggi adalah Allah, semua ciptaanNya juga merupakan sebab. Dalam filsafat terdapat aturan ‘ada’, ‘mengada’, ‘pengada’.  Mitos adalah lawan kata dari logos. Logos berarti berpikir, jadi sebenar-benarnya di dunia adalah mitos dan logos. Ketika kita mengerjakan sesuatu dimana kita tidak mengerti disebut mitos, semisal anak kecil yang belajar bicara atau makan. Tetapi berdoa atau beribadah adalah keyakinan, bukan mitos.
Apakah semua pertanyaan mempunyai jawaban? Jawabannya adalah iya. Namun, tidak semua jawaban harus selalu dijawab. Dan tidak smua jawaban harus diucapkan.
Alat berfilsafat adalah bahasa analog. Bahasa analog adalah konformitas dua dunia, lebih lembut dan lebih mendasar dari bahasa kiasan, misalnya kata hati dalam bahasa analog bisa berarti iman, Tuhan, spiritualitas, dan akhirat. Contohnya, bagaimana ‘membangun’ dunia? Disini bukan berarti membangun dengan tenaga fisik tetapi ‘membangun’ dengan bahasa atau tergantung konteksnya. Bahasa yang dimaksud disini adalah pikiran, karena filsafat berarti berpikir. Bagaimana jika tidak berpikir ? bisa dikatakan dalam filsafat bahwa sesuatu tersebut telah mati. Yang dimaksud mati adalah tidak berfikir atau tidak berfungsi sesuai fungsinya. Lalu ada pertanyaan lanjut, dimana letak pikiran kita? Pikiran kita ada di setiap objek pikir yang bisa kita pikirkan atau rasakan secara analog. Metode berfilsafat adalah mendalam dalamkan sedalam dalamnya sampai tidak mampu menjangkaunya.
Kehidupan berfilsafat menggunakan ilmu. Manusia pada hakekatnya dalam keadaan merugi karena salah tapi sebagian kecil dari mereka mengetahui kesalahannya. Berfilsafat merefleksikan diri dan bukan diri. Diri dan yang lainnya. Karena sebenarnya yang mantap itu sudah berupa menjadi mayat akibat tidak berpikir lagi. Berfilsafat adalah olah pikir yang sebenar-benarnya. Manusia sering terperangkap oleh mitos.
Pikiran kacau sedang mengalami disorientasi. Filsafat adalah sopan santun. Filsafat adalah kedudukan. Filsafat adalah adab. Filsafat adalah derajat. Untuk memperolah derajat yang tinggi, maka raihlah maghfirah, sakina, mawadah, dan warahmah. Hidup harus semangat agar tidak terancam kematian. Sebenar-benarnya mayat, sudah tidak berfungsi seperti dengan fungsinya. Itulah keterbatasan manusia.

No comments:

Post a Comment

UPAYA MEMBANGUN PEMAHAMAN DAN TEORI FILSAFAT PENDIDIKAN MATEMATIKA

UPAYA MEMBANGUN PEMAHAMAN FILSAFAT PENDIDIKAN MATEMATIKA Prof. Dr. Marsigit, M. A, Amalia Nur Rachman A.     Latar Belakang Manu...