Wednesday, January 2, 2019

Mengenali Dunia melalui Filsafat


            Manusia menjalani kehidupan tak akan lepas dari masalah dan godaan. Harta, tahta dan rupa menjadi atensi manusia yang secara kasat mata seperti pisau bermata dua. Dalam kehidupan pasti ada yang baik dan yang buruk. Tugas manusia adalah bertahan dan berkembang pada kebaikan untuk terus hidup. Banyak filosofi terdahulu dari berbagai budaya yang telah mengingatkan kita agar selalu berbuat kebaikan dan menghindari keburukan. Seperti halnya semua agama mengajarkan ‘taqwa’ bagi pemeluknya. Maka secara logis, agama juga merupakan filosofi, bahkan agama atau lebih umumnya spiritualitas adalah filosofi tertinggi.
Yang Maha Tinggi adalah Yang Maha Kuasa atas SegalaNya. Jika ada yang tertinggi pasti ada yang pertengahan dan tingkatan-tingkatan di bawahnya.. Dengan kuasa Tuhan, manusia sebagai makhluk ciptaanNya yang berada sangat jauh dan sangat kecil di hadapanNya. Kuasa Tuhan pula yang menuntun kita hingga sampai detik ini, Saya menulis artikel ini, Anda yang berkegiatan dan semua yang terjadi di dunia ini adalah Kuasa Tuhan. Walau sekecil apapun hal yang terjadi belum tentu terjadi karena satu sebab saja, semua adalh Kuasa Tuhan. Saya menulis artikel ini belum tentu karena saya ingin menulis, bisa saja karena saya tertarik pada ilmu filsafat atau karena saya mempunyai tugas menulis refleksi perkuliahan Filsafat.
Filsafat itu seperti dunia, setiap hal yang ada di dunia itu ada filsafatnya. Dan filsafat itu adalah dirimu sendiri karena filsafat adalah pikiran. Mempelajari filsafat menimbulkan risau dalam pikiran yang menimbulkan pengetahuan baru, namun tidak diperbolehkan risau dalam hati yang menimbulkan kekacauan. Dalam menuntut ilmu harus diniatkan dan dikembalikan untuk beribadah  mendekatkan diri pada Tuhan, Allah SWT.
Selama ini, manusia berpikir bahwa apa yang ia pikirkan adalah benar. Disini manusia tidak menyadari kesombongan baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Permisalan hal kecil adalah ke’aku’an yang tidak sadar selalu kita ucap dan rasakan. Dalam berfilsafat, ilmu yang paling tinggi adalah merasa tidak mengetahui apa pun, seperti yang dikemukan oleh Socrates
Jadi sebenarnya, bagaimana hal-hal terjadi di dunia ini? Hal yang terjadi selalu beriringan dengan hal yang tidak terjadi di perspektif lain. Muncullah konsep kontradiksi dunia yang menjawab semua kejadian. Bahkan untuk hal yang sama sekalipun? Memang ada hal yang sama namun sangat bergantung pada ruang dan waktu yang menjadikan hal yang sama menjadi hal yang berbeda. Diri Anda adalah diri Anda, konsep yang sama, namun bagaimana diri Anda tidak akan pernah sama dengan diri Anda setelah saat ini, sebelum saat ini, pada tempat Anda saat ini atau pada tempat Anda setelah ini. Saya ada dan hidup di sini sekarang, namun tidak di tempat lain ataupun di waktu lain. Ruang dan waktu disini bersifat relatif.. Persamaan hanya ada di pikiran tetapi pada kenyataan hanyalah perbedaan. Kembali lagi, semua yang ada di dunia dan akhirat adalah Kuasa Tuhan. Seperti yang telah            Prof. Marsigit, M.A. kemukan, manusia tak henti hentinya bertugas mengerjakan apa yang kau pikirkan, pikirkan apa yang kau kerjakan, doakan apa yang kau pikirkan, doakan apa yang kau kerjakan. Semua merentang dan menjalani timeline waktu dari yang kemarin, sekarang dan yang akan datang. Dan jika dirangkum menjadi satu disebut dengan Hermenetika. Hermenetika berasal dari kata hermein yaitu seorang dewa di jaman Yunani. Dewa Hermein dianggap sebagai dewa yang mampu mendengar bisikan Tuhan yang kemudian disampaikan kepada masyarakat. Maka hermein berarti menterjemahkan dan Hermenetika berarti menterjemahkan dan diterjemahkan. Dalam bahasa jawa disebut dengan Cokro Manggilingan, Cokro itu bundar dan Manggilingan itu berjalanan. Jadi, Cokro Manggilingan adalah sesuatu yang bundar yang berjalan.
Manusia merasakan apa yang dipikirkan dan dirasakan. Cakupan pikiran sangat luas meliputi  infinity case dari semua yang ada di dunia dan akhirat, begitu juga dengan perasaan. Semua yang ada adalah semua yang dipikirkan, sedangkan masih banyak hal lain yang belum ada di pikiran kita. ‘ada’nya sesuatu disebabkan sudah dipikirkan, dirasakan, maupun dijangkau panca indra. Oleh sebab itu, objek filsafat adalah semua yang ada dan yang mungkin ada.  Maksud dari yang “mungkin ada” sangat luas, tidak bisa disebutkan satu persatu karena jumlahnya bermilyar-milyar sampai tak terhingga. “Ada” bagi saya belum tentu “ada” bagi dirimu. “Ada” bagi dirimu belum tentu “ada”bagi saya. “ada” ku bisa jadi “mungkin ada” bagimu dan “ada” mu bisa jadi “mungkin ada” bagimu. Bisa juga “ada” untuk diriku dan “ada” untuk dirimu. Pada hakekatnya belajar filsafat adalah hanya mengadakan dari yang “mungkin ada” menjadi “ada”. Dengan demikian menimbulkan  aturan ‘ada’, ‘mengada’, dan ‘pengada’.
Dalam berfilsafat, semua yang ada dan yang mungkin ada merupakan tesis. Di benak kita pasti bertanya ‘Mengapa?’. Kata mengapa mengawali pola pikir kita untuk berfilsafat. Jika dalam kehidupan ada tesis, pasti ada anti tesis. Tugas kita adalah mensintesis antara tesis dan anti tesis. Tentu, dalam mensintesis kehidupan sebaiknya dijalani dengan ikhlas, sabar, berserah diri kepada Allah, selalu ikhlas dalam keadaan berdoa dan bersyukur.
Alat berfilsafat adalah bahasa analog. Bahasa analog adalah konformitas dua dunia, lebih lembut dan lebih mendasar dari bahasa kiasan, misalnya kata hati dalam bahasa analog bisa berarti iman, Tuhan, spiritualitas, dan akhirat. Contohnya, bagaimana ‘membangun’ dunia? Disini bukan berarti membangun dengan tenaga fisik tetapi ‘membangun’ dengan bahasa atau tergantung konteksnya. Bahasa yang dimaksud disini adalah pikiran, karena filsafat berarti berpikir. Bagaimana jika tidak berpikir ? bisa dikatakan dalam filsafat bahwa sesuatu tersebut telah mati. Yang dimaksud mati adalah tidak berfikir atau tidak berfungsi sesuai fungsinya. Lalu ada pertanyaan lanjut, dimana letak pikiran kita? Pikiran kita ada di setiap objek pikir yang bisa kita pikirkan atau rasakan secara analog. Oleh karena itu, metode berfilsafat adalah mendalam dalamkan sedalam dalamnya sampai tidak mampu menjangkaunya.
 Jangan sampai diri kita merasa mampu dan terlalu ambisius dalam mengetahui segalanya dengan benar. Dalam bahasa jawa dikenal dengan istilah ojo nggege-mangsa yang maknanya jangan mendahului kehendak Tuhan sebelum waktunya. Sifat manusia yang seperti ini disebut determin. Determin adalah menjatuhkan sifat kepada yang lain.
Manusia menjalani kehidupan dunia di atas pikiran dan realita. Bahkan mungkin realita adalah bayangan diri. Di dalam pikiran, terdapat banyak logika sampai tak terhingga. Logika merupakan konsep- konsep yang terhubung dalam diri kita yang mempunyai bayangan. Bayangan tersebut dapat berasal dari mana pun. Salah satunya dari trans, trans adalah sesuatu yang tidak diketahui tetapi berpengaruh terhadap diri kita. Banyak hal yang menjadi contoh trans, semisal kejadian ekonomi  global,  kita  tidak  mengetahui  apa  yang  terjadi  sebenarnya  tetapi  kita  terkena dampaknya.
Bayangan diri bergantung pada pikiran dan rasa. Seperti halnya pikiran memuat hal yang ada dan mungkin ada. Begitu juga dengan rasa yang ada dan mungkin ada. Namun, pikiran tidak akan mampu menjelaskan semua rasa. Ketika mengucap lisan, tidak semua yang dipikirkan dapat terucap. Sebaliknya,  sehebat – hebatnya menulis apa yang kita pikirkan, tidak dapat mencakup semua ucapan. Manusia tidak dapat mengejar segalanya secara bersamaan. Apa yang dipikirkan bersifat ikonik karena tergantung pada pikiran masing masing, begitu juga dengan perasaan. Setiap manusia mempunyai cinta, kasih, rindu, benci dan sayang yang ikonik, dalam filsafat disebut sebagai Romantisisme.
Sekali lagi, filsafat dipelajari dari yang mungkin ada menjadi ada dalam makna yang luas. Maka kapanpun sadar tidak sadar kita pasti menemukan fenomena berubahnya yang mungkin ada menjadi ada. Manusia sangat terbatas dan lemah dalam kemampuannya melihat hanya sepotong gambar saja. Semua yang ada di dunia dan akhirat hanyalah KuasaNya agar kita selalu bersyukur dan berusaha mendekatkan diri kepada Nya.

No comments:

Post a Comment

UPAYA MEMBANGUN PEMAHAMAN DAN TEORI FILSAFAT PENDIDIKAN MATEMATIKA

UPAYA MEMBANGUN PEMAHAMAN FILSAFAT PENDIDIKAN MATEMATIKA Prof. Dr. Marsigit, M. A, Amalia Nur Rachman A.     Latar Belakang Manu...