Manusia menjalani kehidupan tak akan lepas dari
masalah dan godaan. Harta, tahta dan rupa menjadi atensi manusia yang secara
kasat mata seperti pisau bermata dua. Dalam kehidupan pasti ada yang baik dan
yang buruk. Tugas manusia adalah bertahan dan berkembang pada kebaikan untuk
terus hidup. Banyak filosofi terdahulu dari berbagai budaya yang telah
mengingatkan kita agar selalu berbuat kebaikan dan menghindari keburukan.
Seperti halnya semua agama mengajarkan ‘taqwa’ bagi pemeluknya. Maka secara
logis, agama juga merupakan filosofi, bahkan agama atau lebih umumnya spiritualitas
adalah filosofi tertinggi.
Yang Maha Tinggi adalah Yang Maha Kuasa atas
SegalaNya. Jika ada yang tertinggi pasti ada yang pertengahan dan
tingkatan-tingkatan di bawahnya.. Dengan kuasa Tuhan, manusia sebagai makhluk
ciptaanNya yang berada sangat jauh dan sangat kecil di hadapanNya. Kuasa Tuhan
pula yang menuntun kita hingga sampai detik ini, Saya menulis artikel ini, Anda
yang berkegiatan dan semua yang terjadi di dunia ini adalah Kuasa Tuhan. Walau
sekecil apapun hal yang terjadi belum tentu terjadi karena satu sebab saja,
semua adalh Kuasa Tuhan. Saya menulis artikel ini belum tentu karena saya ingin
menulis, bisa saja karena saya tertarik pada ilmu filsafat atau karena saya
mempunyai tugas menulis refleksi perkuliahan Filsafat.
Filsafat itu seperti dunia, setiap hal yang ada di
dunia itu ada filsafatnya. Dan filsafat itu adalah dirimu sendiri karena
filsafat adalah pikiran. Mempelajari filsafat menimbulkan risau dalam pikiran
yang menimbulkan pengetahuan baru, namun tidak diperbolehkan risau dalam hati yang
menimbulkan kekacauan. Dalam menuntut ilmu harus diniatkan dan dikembalikan
untuk beribadah mendekatkan diri pada
Tuhan, Allah SWT.
Selama ini, manusia berpikir bahwa apa yang ia
pikirkan adalah benar. Disini manusia tidak menyadari kesombongan baik terhadap
diri sendiri maupun orang lain. Permisalan hal kecil adalah ke’aku’an yang
tidak sadar selalu kita ucap dan rasakan. Dalam berfilsafat, ilmu yang paling
tinggi adalah merasa tidak mengetahui apa pun, seperti yang dikemukan oleh Socrates
Jadi sebenarnya, bagaimana hal-hal terjadi di dunia
ini? Hal yang terjadi selalu beriringan dengan hal yang tidak terjadi di
perspektif lain. Muncullah konsep kontradiksi dunia yang menjawab semua
kejadian. Bahkan untuk hal yang sama sekalipun? Memang ada hal yang sama namun
sangat bergantung pada ruang dan waktu yang menjadikan hal yang sama menjadi
hal yang berbeda. Diri Anda adalah diri Anda, konsep yang sama, namun bagaimana
diri Anda tidak akan pernah sama dengan diri Anda setelah saat ini, sebelum
saat ini, pada tempat Anda saat ini atau pada tempat Anda setelah ini. Saya ada dan hidup di sini sekarang, namun tidak di tempat lain
ataupun di waktu lain.
Ruang dan waktu disini bersifat relatif.. Persamaan hanya ada di pikiran tetapi pada kenyataan
hanyalah perbedaan. Kembali lagi, semua yang ada di dunia dan akhirat adalah Kuasa
Tuhan. Seperti yang telah Prof.
Marsigit, M.A. kemukan, manusia tak henti hentinya bertugas mengerjakan apa
yang kau pikirkan, pikirkan apa yang kau kerjakan, doakan apa yang kau
pikirkan, doakan apa yang kau kerjakan. Semua merentang
dan menjalani timeline waktu dari
yang kemarin, sekarang dan yang akan datang. Dan jika dirangkum menjadi satu
disebut dengan Hermenetika. Hermenetika berasal dari kata hermein yaitu
seorang dewa di jaman Yunani. Dewa Hermein dianggap sebagai dewa yang mampu
mendengar bisikan Tuhan yang kemudian disampaikan kepada masyarakat. Maka hermein
berarti menterjemahkan dan Hermenetika berarti menterjemahkan dan
diterjemahkan. Dalam bahasa jawa disebut dengan Cokro Manggilingan, Cokro itu bundar dan Manggilingan itu berjalanan. Jadi, Cokro Manggilingan adalah sesuatu yang bundar yang berjalan.
Manusia merasakan apa yang dipikirkan dan dirasakan.
Cakupan pikiran sangat luas meliputi infinity case
dari semua yang ada di dunia dan akhirat, begitu juga
dengan perasaan. Semua yang ada adalah semua yang dipikirkan, sedangkan masih
banyak hal lain yang belum ada di pikiran kita. ‘ada’nya sesuatu disebabkan
sudah dipikirkan, dirasakan, maupun dijangkau panca indra. Oleh sebab itu,
objek filsafat adalah semua yang ada dan yang mungkin ada. Maksud dari yang “mungkin ada” sangat luas,
tidak bisa disebutkan satu persatu karena jumlahnya bermilyar-milyar sampai tak
terhingga. “Ada” bagi saya belum tentu “ada” bagi dirimu. “Ada” bagi dirimu
belum tentu “ada”bagi saya. “ada” ku bisa jadi “mungkin ada” bagimu dan “ada”
mu bisa jadi “mungkin ada” bagimu. Bisa juga “ada” untuk diriku dan “ada” untuk
dirimu. Pada hakekatnya belajar filsafat adalah hanya mengadakan dari yang
“mungkin ada” menjadi “ada”. Dengan demikian menimbulkan aturan ‘ada’, ‘mengada’, dan ‘pengada’.
Dalam berfilsafat, semua yang ada dan yang mungkin ada
merupakan tesis. Di benak kita pasti bertanya ‘Mengapa?’. Kata mengapa
mengawali pola pikir kita untuk berfilsafat. Jika dalam kehidupan ada tesis,
pasti ada anti tesis. Tugas kita adalah mensintesis antara tesis dan anti
tesis. Tentu, dalam mensintesis kehidupan sebaiknya dijalani dengan ikhlas,
sabar, berserah diri kepada Allah, selalu ikhlas dalam keadaan berdoa dan
bersyukur.
Alat
berfilsafat adalah bahasa analog. Bahasa analog adalah konformitas dua dunia, lebih lembut dan
lebih mendasar dari bahasa kiasan, misalnya kata hati dalam bahasa analog bisa berarti iman, Tuhan,
spiritualitas, dan akhirat. Contohnya,
bagaimana ‘membangun’ dunia? Disini bukan berarti membangun dengan tenaga fisik
tetapi ‘membangun’ dengan bahasa atau tergantung konteksnya. Bahasa yang
dimaksud disini adalah pikiran, karena filsafat berarti berpikir. Bagaimana
jika tidak berpikir ? bisa dikatakan dalam filsafat bahwa sesuatu tersebut
telah mati. Yang dimaksud mati adalah tidak berfikir atau tidak berfungsi
sesuai fungsinya. Lalu ada pertanyaan lanjut, dimana letak pikiran kita?
Pikiran kita ada di setiap objek pikir yang bisa kita pikirkan atau rasakan
secara analog. Oleh karena itu, metode berfilsafat
adalah mendalam dalamkan sedalam dalamnya sampai tidak mampu
menjangkaunya.
Jangan sampai diri kita merasa mampu dan terlalu
ambisius dalam mengetahui segalanya dengan benar. Dalam bahasa jawa dikenal
dengan istilah ojo nggege-mangsa yang
maknanya jangan mendahului kehendak Tuhan sebelum waktunya. Sifat manusia yang
seperti ini disebut determin. Determin
adalah menjatuhkan sifat kepada yang
lain.
Manusia menjalani kehidupan dunia di atas pikiran dan realita. Bahkan mungkin realita adalah
bayangan diri. Di dalam pikiran, terdapat banyak logika sampai tak terhingga.
Logika merupakan konsep- konsep yang terhubung dalam diri kita yang mempunyai
bayangan. Bayangan tersebut dapat berasal dari mana pun. Salah satunya dari
trans, trans adalah sesuatu yang tidak diketahui tetapi berpengaruh
terhadap diri kita. Banyak hal yang menjadi contoh trans, semisal kejadian
ekonomi global, kita
tidak mengetahui apa
yang terjadi sebenarnya tetapi
kita terkena dampaknya.
Bayangan diri
bergantung pada pikiran dan rasa. Seperti halnya pikiran memuat
hal yang ada dan mungkin ada. Begitu juga dengan rasa yang ada dan mungkin ada.
Namun, pikiran tidak akan mampu menjelaskan semua rasa. Ketika mengucap lisan, tidak semua yang dipikirkan
dapat terucap. Sebaliknya, sehebat – hebatnya
menulis apa yang kita pikirkan, tidak dapat mencakup
semua ucapan. Manusia tidak dapat mengejar segalanya secara bersamaan. Apa
yang dipikirkan bersifat ikonik karena tergantung pada pikiran masing masing,
begitu juga dengan perasaan. Setiap manusia mempunyai cinta,
kasih, rindu, benci dan sayang yang
ikonik, dalam filsafat disebut sebagai Romantisisme.
Sekali lagi,
filsafat dipelajari dari yang mungkin ada menjadi ada dalam makna yang luas. Maka kapanpun sadar
tidak sadar kita pasti menemukan fenomena berubahnya yang mungkin ada menjadi
ada. Manusia
sangat terbatas dan lemah dalam kemampuannya melihat hanya sepotong gambar saja. Semua yang ada di dunia dan akhirat hanyalah
KuasaNya agar kita selalu bersyukur dan berusaha mendekatkan diri kepada Nya.
No comments:
Post a Comment