Tuesday, November 6, 2018

Filsafat spiritual


Perilaku sabar itu sesuai ruang dan waktunya. Menyesuaikan terhadap ruang dan waktu. Itu sabar. Jadi menyesuaikan antara penglihatan, pemikiran, pendengaran, dan tindakan terhadap ruang dan waktunya yang sesuai. Kemudian juga sifat menerima, toleran. Sifat toleran itu adalah mengurangi suatu sifat determinis terhadap suatu sifat kepada sifat yang lain. Manusia pasti mempunyai kelemahan kelebihan. Dalam berikhtiar, manusia mempunyai potensi doa yang dapat ditingkatkan kualitas kuantitasnya. Ketidaksabaran adalah ketika manusia melihat potensi tidak sabar dan tidak menerima atas apa yang kamu kerjakan atau dapatkan.
Agama adalah aspek spiritualitas, sedangkan pelecehan termasuk dalam pemanfaatan bahasa. Bahasa tidak akan mampu mencerminkan pikiran. Pelecehan agama itu terjadi jika tidak menerapkan dalil-dalil sesuai dengan ruang dan watunya. Pelecehan tergantung dari niat awal atau motif dan ambisi. Sikap ambisisus dikhawatirkan akan terjebak dalam tempat yang sempit dan parsial yang seakan-akan hal tersebut sudah menjadi kebenaran yang universal, namun sebetulnya tidak.
Dalam berfilsafat harus banyak baca baca dan baca, terus-menerus diulangi. Kenapa sulit? karena sebagian ditulis dengan bahasa analog. Bahasa analog merupakan bahasa metafisik, dimana metafisik itu ialah maksudnya ada dalam makna sebaliknya. Jadi yang kita lihat, dengar dan rasakan itu merupakan kualitas pertama, sedangkan metafisik merupakan kualitas kedua, ketiga, dan seterusnya. Sampai kapan ? tidak akan berakhir, ini yang dinamakan dengan infinity case. Misalnya hati, hati bisa bermakna doa, spiritual, kuasa tuhan.
Banyak hal di dunia ini ada yang berlaku sebagai bukan benar dan bukan salah. Banyak sekali, misalnya saya dan kamu itu merupakan bukan benar dan bukan salah. Begitupun dalam berfilsafat jika kita salah menempatkannya akan berbahaya. Bahayanya berfilsafat jika tidak memperhatikan ruang dan waktu, parsial, dan salah paham. Urusan dunia yang memuat akhirat dan urusan akhirat yang memuat dunia karena adanya infinity case (pikiran) dan jika dinaikkan lagi karena adanya kuasa Tuhan.
Cinta, kasih, rindu, benci dan sayang filsafatnya adalah Romantisism. Jadi semua itu ikonik, tergantung pikiran anda masing-masing. Dunia itu romantis. Ikonik itu ada yang dekat dan ada yang jauh. ikonik itu dekat dengan determinism. Pertempuran dan perebutan kekuasaan bisa juga disebut dengan Romantisism, maka pertempuran antar negara bisa juga isomorfis (setara dengan percintaan).
Menyeimbangkan dan menyelaraskan antara pikiran, hati dan perbuatan. Cara menyeimbangkannya adalah jalani pikiran anda, wujudkanlah pikiran anda dalam bentuk tindakan dan pikirkan tindakan anda kemudian doakan pikiran anda dan doakan tindakan anda. Merentang dan menjalani timeline waktu dari yang kemarin, sekarang dan yang akan datang. Dan jika dirangkum menjadi satu disebut dengan Hermenetika. Hermenetika berasal dari kata Hermein yaitu seorang dewa di jaman Yunani. Dewa Hermein dianggap sebagai dewa yang mampu mendengar bisikan Tuhan yang kemudian disampaikan kepada masyarakat. Maka Hermein berarti menterjemahkan dan Hermenetika berarti menterjemahkan dan diterjemahkan. Dalam bahasa jawa disebut dengan Cokro Manggilingan, Cokro itu bundar dan Manggilingan itu berjalanan. Jadi, Cokro Manggilingan adalah sesuatu yang bundar yang berjalan.  
Mengatakan yang mungkin ada yaitu dengan cara Hermenetika, Cokro Manggilingan, dan belajar dari yang mungkin ada menjadi ada. Maka kapanpun sadar tidak sadar kita pasti menemukan fenomena berubahnya yang mungkin ada menjadi ada. Manusia itu sangat terbatas dan lemah karena manusia hanya mampu melihat sepotong gambar saja karena tidak ada yang mengabadikan setiap momennya. Yang mampu mengabadikan setiap detiknya hanya kamera Tuhan.
A priori itu paham tetapi belum melihat, mendengar atau mungkin belum menyentuh. A priori banyak manfaat tapi ada juga bahayanya. Paham walaupun belum ketemu. Sedangkan, a posteriori yaitu berpikir tingkat rendah. Hidup ini tidak konsisten, kontradiktif. Berlaku A tidak sama dengan A, Karena terikat pada ruang dan waktu. Gengsi terhadap yang tidak sesuai dengan ruang dan waktu. Tumakninah, istikomah, dan amanah terhadap ruang dan waktu. Banyaknya pengalaman hidup itu penting walaupun ada yang memalukan. Gengsi ada hubungannya dengan “menerima” dengan ikhlas.

Bayangan


Determin adalah menjatuhkan sifat kepada yang lain. Maka sebenar-benarnya hidup adalah determin. Tak akan ada hidup jika tidak jatuh pada. Tujuan hidup itu, pada hakikatnya jatuh pada atau determin. Maka lahirlah paham determinisme. Orang yang suka menjatuhkan sifat.
            Itu  tadi  determin,  tak  sehat.  Wadaw  terkejut,  jadi  filsafat  itu  sama  seperti  orang  jawa  itu keterkejutan, kaget, ketidak pahaman itu musuh filsafat. Orang jawa mementingkan harmoni, hidup itu harmoni. Determin itu seperti suka dunia itu seperti diriku nah itu namanya determin, itu ego. Menunjuk itu determin, determin itu jatuhnya suatu sifat ke sifat yang lain. Dunia itu ya seperti itu aja. Eh kamu memandang kepada saya, berarti kamu sedang menjatuhkan sifat kepada saya. Tuhan menjatuhkan sifatnya  yang  Ar-Rahman dan Ar-Rohim maka  terciptalah dunia ini. Jatuhnya oksigen ke darah itu determin, persis seperti engkau melihat saya dalam filsafat kedudukannya sama dengan gempa bumi di Palu. Maha Determin itu Allah SWT.  Determin  dalam  ilmu  sosial  itu  otoriter,  orang  yang  otoriter  itu  keliatan  dari  raut wajahnya, ya jelas orang wajahnya merengut. Maka, determin itu ada berjenjang, maka godaan yang paling besar pada pejabat adalah determin. Di dalam jawa, pewayangan, pasti seorang raja pun  begitu  mana  ada  melihat  rajanya  menengadahkan  wajah  lansung  melihat  rajanya,  itu namanya determin yg salah.  Tergesa-gesa/terkejut/cepat, kalau orang  jawa setara dengan ojo ngege ngoso atau dalam bahasa indonesia  jangan mendahului kehendak Tuhan (bisa dengan cara menolak/merebut)
            Apa itu lupa ?  Terkait dengan masalah ‘lupa’. Lupa merupakan penyesuaian ruang dan waktu. Terjadinya lupa bila terputusnya pikiran dan realita. Sebenar-benarnya hidup adalah di atas pikiran dan realita. Bahkan mungkin realita adalah bayangan diri kita. Di dalam pikiran, terdapat banyak logika sampai tak terhingga. Logika merupakan konsep- konsep yang terhubung dalam diri kita yang mempunyai bayangan. Bayangan tersebut dapat berasal dari mana pun. Salah satunya dari trans, trans adalah sesuatu yang tidak kita ketahui tetapi berpengaruh terhadap diri kita. Banyak hal yang menjadi contoh trans, semisal kejadian ekonomi  global,  kita  tidak  mengetahui  apa  yang  terjadi  sebenarnya  tetapi  kita  terkena dampaknya.
            Pikiran akan terus bekerja seiring berjalannya waktu. Ketika usia sudah lanjut, maka pikiran akan teringat masa lampau tentang kejadian atau rutinitas  yang dialaminya. Disinilah bukti bahwa logika masih berjalan. Terkadang ada bayang-bayang yang muncul tetapi sebenarnya itu tidak nyata  atau terkadang salah mengimajinasikan bayangan. Hal tersebut disebabkan oleh logika yang masih berjalan yang berkaitan dengan memori. 
Filsafat bekerja dalam kehidupan dengan mengerjakan apa yang kau pikirkan dan pikirkan apa yang kau kerjakan. Doakan apa yang kau pikirkan, doakan apa yang kau kerjakan. 
Tesis itu semua yang ada secara filsafat. Semua adalah tesis dan di luar semua yang ada adalah anti tesis. Semisal, saya adalah anti tesis air. Begitu juga sebaliknya. Pembahasan tesis dan antithesis menimbulkan sintesis
Manusia yang sebenar-benarnya hidup adalah sesuai ruang dan waktu. Saya ada dan hidup di sini sekarang, namun tidak di tempat lain ataupun di waktu lain
Bayangan bergantung pada pikiran dan rasa. Seperti halnya pikiran memuat hal yang ada dan mungkin ada. Begitu juga dengan rasa yang ada dan mungkin ada. Pikiran tidak akan mampu menjelaskan semua rasa. Sehebat – hebat kalimatku/ perkataan tidak bisa mengejar pikiran. Sehebat – hebat tulisan tidak bisa mengejar ucapan. Sehebat – hebat tindakan tidak melaksanakan semua tulisan. Kita tidak bisa mengejar segalanya dengan penuh, apalagi spiritual.  Jangan mencoba untuk bermain pikiran dalam hal spiritual. Tuhan merupakan sebab pertama dan utama. Kita harus berada pada jalur yang benar agar terhindar dari ancaman kematian. Yang dimaksud ancaman kematian adalah kemunafikan atas tidak mengakui keTuhanan

Filsafat, pengetahuan pikiran


Banyak filosofi dalam pementasan tersebut, salah satunya adalah hidup itu banyak godaan. Kita harus dapat menahan godaan agar bisa tetap survive. Dalam kehidupan juga pasti menemukan keburukan yang melawan kebaikan. Kita tidak boleh tergoda oleh keburukan semisal tergoda oleh rasa malas, kecantikan, kedudukan maupun kebohongan dan keburukan lainnya yang akan membawa kita pada akibat buruk.
Adapun beberapa nasihat jawa dalam ketoprak tersebut, yaitu sak bejo-bejone wong lali, isih bejo wong eling lan waspada. Artinya jika kamu merasa menjadi orang yang paling beruntung tetapi kalau beruntungnya karena menipu, lebih beruntung orang yang untungnya sedikit tetapi jujur. Nasihat selanjutnya, nek arep golek banyu yo goleke wadah yang artinya barang siapa yang mempunyai cita cita maka harus bekerja keras. Kita harus berusaha mengejar cita cita melalui kebaikan, jangan goyah akan godaan keburukan.
Filsafat itu seperti dunia, setiap hal yang ada di dunia itu ada filsafatnya. Dan filsafat itu adalah dirimu sendiri. Sebenar benarnya filsafat adalah pikiran. Tetapi kita harus mempunyai prinsip dalam belajar filsafat  harus tetap dalam jalurnya. Filsafat itu menimbulkan risau dalam pikiran, jika risau dalam hati itu harus dikembalikan kepada Allah SWT.
Prinsip belajar yang diterapkan adalah belajar kapanpun dan dimanapun, sehingga mahasiswa difasilitasi kuliah online yang tersedia di blog beliau yang mempunyai banyak link artikel untuk dibaca dan dipelajari. Adab-adab yang perlu di perhatikan dalam menempuh perkuliahan filsafat, yang pertama adalah kesiapan dalam mempelajari topik yang hard and soft ( menjurus ke arah spiritual ). Disini kita sebagai mahasiswa harus meneguhkan keyakinan sesuai kepercayaan / agama masing-masing karena kuliah filsafat level paling tinggi adalah mempelajari tentang pola pikir, yang berkaitan dengan Tuhan / aspek spiritualitas..
Dalam kuliah filsafat, tidak jelas itu perlu, tidak bisa itu benar, salah itu benar, dan tidak jelas itu penting. Itulah beda dan anehnya belajar matematika dengan belajar filsafat. Belajar matematika berawal dari yang berantakan / abstrak menjadi jelas dan solid di akhir, sedangkan belajar filsafat diawali dari yang solid dan jelas menjadi berantakan di akhir, jadi kita harus menyiapkan diri kita untuk kacau dalam pikiran tetapi jangan kacau di dalam hati karena kacau di dalam pikiran adalah awal dari pengetahuan

Bahasa Filsafat


Objek filsafat adalah yang “ada” dan yang “mungkin ada”  dalam pikiran. Maksud dari yang “mungkin ada” sangat luas, tidak bisa disebutkan satu persatu karena jumlahnya bermilyar-milyar sampai tak terhingga. “Ada” bagi saya belum tentu “ada” bagi dirimu. “Ada” bagi dirimu belum tentu “ada”bagi saya. “ada” ku bisa jadi “mungkin ada” bagimu dan “ada” mu bisa jadi “mungkin ada” bagimu. Bisa juga “ada” untuk diriku dan “ada” untuk dirimu. Contoh penjelasan objek filsafat, adalah nama cucu Bapak Marsigit di dalam pikiran mahasiswa. Mahasiswa tidak nama cucu beliau. Itu berarti “ada” dalam diriku tapi “tidak ada” dalam dirimu. Tetapi bisa saja menjadi “mungkin ada”, ketika mahasiswa mulai memikirkan nama cucu beliau. Selanjutnya ketika mahasiswa sudah diberi tahu nama cucu beliau, menjadi “ada” pada dirimu dan “ada” pada diriku.
Pada hakekatnya belajar filsafat adalah hanya mengadakan dari yang “mungkin ada” menjadi “ada”. Berkaitan dengan yang “ada di dalam pikiran” dan “ada di luar pikiran”, contohnya adalah jika kita meletakkan handphone di atas meja, handphone tersebut terlihat oleh mata kita, berarti handphone tersebut “ada di luar pikiran” kita, karena secara fisik handphone itu berada di luar pikiran. Kemudian handphone itu dibungkus dengan kertas sehingga menjadi tertutup atau tidak terlihat, berarti handphone tersebut “ada di dalam pikiran”.
Persoalan hidup secara filosofis yaitu manusia hanya paham ‘sebagian’, maka hidup sebagian itu termasuk godaan syaitan melalui sifat manusia yang ‘parsial’. Belajar berfilsafat itu mengadakan yang belum ada. Seperti pada pertanyaan tes tadi , sebab sebab sebab? jawabnya sebab, karena semua di dunia ini merupakan sebab. Sebab yang paling tertinggi adalah Allah, semua ciptaanNya juga merupakan sebab. Dalam filsafat terdapat aturan ‘ada’, ‘mengada’, ‘pengada’.  Mitos adalah lawan kata dari logos. Logos berarti berpikir, jadi sebenar-benarnya di dunia adalah mitos dan logos. Ketika kita mengerjakan sesuatu dimana kita tidak mengerti disebut mitos, semisal anak kecil yang belajar bicara atau makan. Tetapi berdoa atau beribadah adalah keyakinan, bukan mitos.
Apakah semua pertanyaan mempunyai jawaban? Jawabannya adalah iya. Namun, tidak semua jawaban harus selalu dijawab. Dan tidak smua jawaban harus diucapkan.
Alat berfilsafat adalah bahasa analog. Bahasa analog adalah konformitas dua dunia, lebih lembut dan lebih mendasar dari bahasa kiasan, misalnya kata hati dalam bahasa analog bisa berarti iman, Tuhan, spiritualitas, dan akhirat. Contohnya, bagaimana ‘membangun’ dunia? Disini bukan berarti membangun dengan tenaga fisik tetapi ‘membangun’ dengan bahasa atau tergantung konteksnya. Bahasa yang dimaksud disini adalah pikiran, karena filsafat berarti berpikir. Bagaimana jika tidak berpikir ? bisa dikatakan dalam filsafat bahwa sesuatu tersebut telah mati. Yang dimaksud mati adalah tidak berfikir atau tidak berfungsi sesuai fungsinya. Lalu ada pertanyaan lanjut, dimana letak pikiran kita? Pikiran kita ada di setiap objek pikir yang bisa kita pikirkan atau rasakan secara analog. Metode berfilsafat adalah mendalam dalamkan sedalam dalamnya sampai tidak mampu menjangkaunya.
Kehidupan berfilsafat menggunakan ilmu. Manusia pada hakekatnya dalam keadaan merugi karena salah tapi sebagian kecil dari mereka mengetahui kesalahannya. Berfilsafat merefleksikan diri dan bukan diri. Diri dan yang lainnya. Karena sebenarnya yang mantap itu sudah berupa menjadi mayat akibat tidak berpikir lagi. Berfilsafat adalah olah pikir yang sebenar-benarnya. Manusia sering terperangkap oleh mitos.
Pikiran kacau sedang mengalami disorientasi. Filsafat adalah sopan santun. Filsafat adalah kedudukan. Filsafat adalah adab. Filsafat adalah derajat. Untuk memperolah derajat yang tinggi, maka raihlah maghfirah, sakina, mawadah, dan warahmah. Hidup harus semangat agar tidak terancam kematian. Sebenar-benarnya mayat, sudah tidak berfungsi seperti dengan fungsinya. Itulah keterbatasan manusia.

UPAYA MEMBANGUN PEMAHAMAN DAN TEORI FILSAFAT PENDIDIKAN MATEMATIKA

UPAYA MEMBANGUN PEMAHAMAN FILSAFAT PENDIDIKAN MATEMATIKA Prof. Dr. Marsigit, M. A, Amalia Nur Rachman A.     Latar Belakang Manu...