Perilaku sabar itu sesuai ruang dan waktunya.
Menyesuaikan terhadap ruang dan waktu. Itu sabar. Jadi menyesuaikan antara
penglihatan, pemikiran, pendengaran, dan tindakan terhadap ruang dan waktunya
yang sesuai. Kemudian juga sifat menerima, toleran. Sifat toleran itu adalah
mengurangi suatu sifat determinis terhadap suatu sifat kepada sifat yang lain.
Manusia pasti mempunyai kelemahan kelebihan. Dalam berikhtiar, manusia
mempunyai potensi doa yang dapat ditingkatkan kualitas kuantitasnya.
Ketidaksabaran adalah ketika manusia melihat potensi tidak sabar dan tidak
menerima atas apa yang kamu kerjakan atau dapatkan.
Agama adalah aspek spiritualitas, sedangkan pelecehan
termasuk dalam pemanfaatan bahasa. Bahasa tidak akan mampu mencerminkan pikiran.
Pelecehan agama itu terjadi jika tidak menerapkan dalil-dalil sesuai dengan
ruang dan watunya. Pelecehan tergantung dari niat awal atau motif dan
ambisi. Sikap ambisisus dikhawatirkan
akan terjebak dalam tempat yang sempit dan parsial yang seakan-akan hal
tersebut sudah menjadi kebenaran yang universal, namun sebetulnya tidak.
Dalam berfilsafat harus banyak baca baca dan baca, terus-menerus
diulangi. Kenapa sulit? karena sebagian ditulis dengan bahasa analog. Bahasa
analog merupakan bahasa metafisik, dimana metafisik itu ialah maksudnya ada
dalam makna sebaliknya. Jadi yang kita lihat, dengar dan rasakan itu merupakan
kualitas pertama, sedangkan metafisik merupakan kualitas kedua, ketiga, dan
seterusnya. Sampai kapan ? tidak akan berakhir, ini yang dinamakan dengan infinity case.
Misalnya hati, hati bisa bermakna doa, spiritual, kuasa tuhan.
Banyak hal di dunia
ini ada yang berlaku sebagai bukan benar dan bukan salah. Banyak sekali, misalnya saya dan kamu itu merupakan
bukan benar dan bukan salah. Begitupun
dalam berfilsafat jika kita salah menempatkannya akan berbahaya. Bahayanya
berfilsafat jika tidak memperhatikan ruang dan waktu, parsial, dan salah paham.
Urusan dunia yang memuat akhirat dan urusan akhirat yang memuat dunia karena
adanya infinity case (pikiran) dan jika dinaikkan lagi karena adanya
kuasa Tuhan.
Cinta,
kasih, rindu, benci dan sayang filsafatnya adalah Romantisism. Jadi semua itu
ikonik, tergantung pikiran anda masing-masing. Dunia itu romantis. Ikonik itu
ada yang dekat dan ada yang jauh. ikonik itu dekat dengan determinism.
Pertempuran dan perebutan kekuasaan bisa juga disebut dengan Romantisism, maka
pertempuran antar negara bisa juga isomorfis (setara dengan percintaan).
Menyeimbangkan
dan menyelaraskan antara pikiran, hati dan perbuatan. Cara menyeimbangkannya
adalah jalani pikiran anda, wujudkanlah pikiran anda dalam bentuk tindakan dan
pikirkan tindakan anda kemudian doakan pikiran anda dan doakan tindakan anda.
Merentang dan menjalani timeline waktu dari yang kemarin, sekarang dan yang akan
datang. Dan jika dirangkum menjadi satu disebut dengan Hermenetika. Hermenetika
berasal dari kata Hermein yaitu seorang dewa di jaman Yunani. Dewa Hermein
dianggap sebagai dewa yang mampu mendengar bisikan Tuhan yang kemudian
disampaikan kepada masyarakat. Maka Hermein berarti menterjemahkan dan
Hermenetika berarti menterjemahkan dan diterjemahkan. Dalam bahasa jawa disebut
dengan Cokro Manggilingan, Cokro itu
bundar dan Manggilingan itu
berjalanan. Jadi, Cokro Manggilingan
adalah sesuatu yang bundar yang berjalan.
Mengatakan
yang mungkin ada yaitu dengan cara Hermenetika, Cokro Manggilingan, dan belajar dari yang mungkin ada
menjadi ada. Maka kapanpun sadar
tidak sadar kita pasti menemukan fenomena berubahnya yang mungkin ada menjadi
ada. Manusia
itu sangat terbatas dan lemah karena manusia hanya mampu melihat sepotong
gambar saja karena tidak ada yang mengabadikan setiap momennya. Yang mampu
mengabadikan setiap detiknya hanya kamera Tuhan.
A priori itu paham
tetapi belum melihat, mendengar atau mungkin belum menyentuh. A priori banyak manfaat tapi ada juga
bahayanya. Paham walaupun belum ketemu. Sedangkan, a posteriori yaitu berpikir tingkat rendah. Hidup ini tidak konsisten,
kontradiktif. Berlaku A tidak sama dengan A, Karena terikat pada ruang dan
waktu. Gengsi terhadap yang
tidak sesuai dengan ruang dan waktu. Tumakninah, istikomah, dan amanah terhadap
ruang dan waktu. Banyaknya pengalaman hidup itu penting walaupun ada yang memalukan. Gengsi ada hubungannya
dengan “menerima” dengan ikhlas.